Tampilkan postingan dengan label cerita anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita anak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Oktober 2007

Menjebak SiPencuri Emas

Dul Shomad
Menjebak SiPencuri Emas

Untuk mencapai kota kerajaan selama ini para penduduk desa Karangmelati harus memutari pegunungan yang jaraknya memakan waktu satu hari perjalanan kereta pedati, dan ini sangat merugikan bagi para pedagang yang menjual hasil panennya dikota. Untuk itu masyarakat sepakat membuat jalan pintas yang berupa terowongan menembus bukit disebelah selatan desa. Pada saat kerja bakti menggali, secara tidak sengaja salah seorang penduduk cangkulnya mengenai benda keras. Setelah diteliti ternyata harta karun yang berupa emas batangan. Suasana menjadi gempar, dan saat itu juga kerja bakti dihentikan dan terowongan yang berbentuk gua diamankan oleh para pengawal dari kerajaan yang langsung tiba dilokasi, hingga menunggu para ahli dari istana datang. Oleh para juragan Gembul selaku pimpinan desa, semua penduduk dilarang mendekati lokasi tersebut dengan alasan khawatir emas penemuan akan dijarah.

Juragan Gembul mencari akal bagaimana caranya mendapatkan sebelum diangkut kekerajaan.Pada malamnya sambil membawa obor juragan sengaja mendatangi sendirian lokasi penemuan dengan alasan untuk mengontrol keamanan. Melihat yang datang kepala desa sendiri, para penjaga mempersilahkan tanpa rasa curiga. “Hmm...aman..aman..semua masih utuh. Yaah.. terimakasih..silahkan meneruskan jaganya..aku mau pulang” kata juragan saat keluar dari mulut gua. Malam berikutnya juragan mengontrol lagi hingga hari ketiga.
Ternyata tanpa sepengetahuan para penjaga, didalam gua juragan ternyata setiap malamnya memasukkan dua batang emas kedalam saku celananya dan penjagapun sama sekali tidak mengetahui dan mencurigai. Hmm..sekarang dua dulu, besok lagi...besoknya lagi....mudah-mudahan utusan dari kerajaan datangnya masih lama sehingga aku setiap hari dapat mengambil sedikit demi sedikit....lama-lama kan jadi banyak hih.hih..hih..hiiih aku makin kayaaa.... !”
Kini setiap pagi juragan terlihat riang kadang tersenyum-senyum seolah merasa puas, kadang sebentar-sebentar pandangannya melirik kearah gua tersebut. Lama-lama para penduduk merasa curiga dengan gelagat juragan. Maklumlah, sifat dan gelagat juragan Gembul sendiri tidak disukai masyarakat, selain serakah dia juga bersikap sewenang-wenang serta menang sendiri apalagi jika terhadap harta. Sehingga gerak-geriknya tidak seperti biasanya begitu ada penemuan emas.

Para penduduk mengadu pada Dul Shomad tentang kecurigaan juragan Gembul, “Bagimana pak Dul, sejak diketemukan emas tersebut, kini setiap malam juragan kesana dengan alasan mengontrol, lalu sekarang ia baru saja membeli kuda lagi lima ekor lagi, jangan-jangan....” “Ssst....tidak baik berprasangka buruk pada orang”, potong Dul Shomad,” Nanti kita selidiki dulu baru kita buktikan benar tidaknya”, lanjutnya.
Usai sholat Subuh seperti biasa Dul Shomad pergi kesawah, namun kali ini ia singgah dulu kearah bukit yang bersebelahan dengan gua tempat emas ditemukan.
Dari balik bukit yang tidak begitu jauh dan diluar sepengetahuan para penjaga, ia membawa satu keranjang kecil gula aren. Dari seberang bukit ia melemparkan gula-gula aren yang sudah dikepal-kepal sebesar kepala kucing kedalam gua, setelah itu ia meneruskan kewawah.

Seperti biasanya kira-kira jam sembilan malam, juragan datang untuk mengontrol kalau batangan emas itu masih utuh atau tidak. Dengan tersenyum licik ia ia mulai lagi mengambil batangan emas dan dimasukkan kedalam saku celana sambil berguman, ”Hmm..kaya...kayaaa...kaa...aaa...aaaa...uuuuuuu...aaaadduuuh....aaadduuuuuhh.!!!”. Tiba-tiba juragan berteriak-teriak sambil mengibas-ibaskan tangannya berlari keluar. Ternyata kepalan-kepalan gula aren yang dilemparkan Dul Shomad tadi pagi telah dikerubuti segerombolan lebah madu. Para penjaga kaget lalu menghampiri juragan yang sedang panik menahan kesakitan.”Waaduuh..ternyata didalam ada lebahnya dan menyengat tanganku.” Katanya sambil melompat-lompat kesakitan. Dan disaat itu juga emas-emas yamg berada disaku celana juragan berjatuhan. Para penjaga terkejut dan langsung menangkap juragan yang kemudian dibawa kebalai desa. Mendengar peristiwa tersebut, orang-orang desa termasuk juga Dul Shomad langsung mendatangi balai desa dan selanjutnya dibawa menghadap raja untuk diadili. Mereka melihat wajah kepala desa merah karena merasa malu. “Ooo.....ternyata pencurinya juragan sendiri..huu..” guman para penduduk. Kemudian para tokoh masyarakat menhampiri Dul Shomad sambil mengucapkan selamat, “Terimakasih pak Dul, berkat jebakanmu akhirnya dapat mengungkap kasus pencurian emas didesa ini”. Dul Shomad hanya tersenyum saja. (haidar)

PERDAMAIAN DIHARI FITRI

Dul Shomad
PERDAMAIAN DIHARI FITRI
Buntut dari lomba tujuh belasan yang lalu, rupanya belum juga selesai. Ketika itu tim dari desa Melati saling bertemu dalam final lomba sepak bola antar kelurahan dengan tim desa Salamat. Namun karena terjadi perselisihan antar pemain dilapangan, terjadilah perkelahian yang berbuntut bentrokan antar supporter hingga diluar lapangan.
Sejak saat itu kedua warga saling menyerang dan saling dendam. Meskipun dari aparat kepolisian sudah berkali-kali mengamankan dan selalu berjaga-jaga diperbatasan desa, namun masih juga terjadi bentrokan. Sudah beberapa kali kedua kepala desa duduk satu meja untuk mendamaikan masalah ini, namun hasilnya tetap kurang memuaskan. Berbagai cara lainpun juga diupayakan agar kedua warga damai seperti ketika akan diadakan peringatan Isro’ Mi’roj bersama, namun tetap saja menemui kegagalan.
Saat bulan Ramadhan datang, timbul gagasan dari para pimpinan desa untuk mengadakan safari tarawih dan kunjungan secara bergantian para tokoh dikedua desa tersebut, hasilnya masih juga mengecewakan. Saat para tokoh desa Melati berkunjung dan tarawih didesa Salamat dan sebaliknya, sebenarnya sudah diterima dengan baik, namun dari pihak arus bawah (warga biasa) masih saja saling bersitegang, masing-masing ingin melampiaskan dendamnya.

Melihat situasi kedua desa yang tak kunjung berhenti, Dul Shomad merasa sedih dan prihatin. Meski ia termasuk warga desa Melati, baginya kedua desa itu adalah bagian darinya. Meskipun orangnya sederhana, warga kedua desa itu sangat menghormati dan merasa segan, karena selain bijaksana, rendah hati, ia sering dimintai nasehat jika orang-orang merasa kesulitan dalam memecahkan berbagai persoalan.

Pada suatu malam, Ia mengunjungi kedua sesepuh desa, pak Unang dari desa Melati dan pak Mukhlis dari Salamat yang kemudian bertiga diajak duduk satu meja dimasjid Nurul Hidayah desa Melati untuk mendamaikan perselisihan itu.
“Assalamualaikum,.....bapak-bapak, bukannya saya nglancangi anda, tapi saya merasa prihatin dengan kondisi warga bapak-bapak yang tak kunjung damai, meski sudah ditempuh dengan berbagai cara. Izinkan saya mengungkapkan sesuatu agar mereka semua damai”, kata Dul Shomad. “Ooo...silahkan..silahkan saya sangat berterimakasih pada pak Dul yang mau peduli dengan kondisi warga kami”, kata pak Unang. “Yaa..sudah sejak lama saya memikirkan bagaiman caranya mereka mau rukun lagi seperti dulu”, sambung pak Mukhlis. Dul Shomad mulai mengungkapkan ide-idenya,”Begini..bagaimana jika nanti pada saat pelaksaaan zakat fitrah, hasil pengumpulan beras dari warga Melati dibagikan pada fakir miskin desa Salamat, dan sebaliknya. Kemudian pelaksaan sholat Ied yang sejak dulu dilakukan dimasjid desa masing-masing, mulai besok dilaksanakan jadi satu dilapangan sepak bola, kemudian setelah selesai semua berkumpul untuk saling minta maaf”. “Bagus juga usulmu pak Dul, saya mendukung”. Kata pak Unang. “Saya juga mendukung”, sahut pak Mukhlis.

Malal hari raya telah tiba, tibalah pelaksaan zakat fitrah. Setelah beras terkumpul semua, oleh panitia lalu diangkut dengan becak, dari desa Melati menuju desa Salamat untuk dibagikan fakir miskin disana, begitu juga sebaliknya dari desa Salamat ke desa Melati. Wargapun menyambut baik karena diberi beras. Pagiharinya, warga kedua desa tersebut berbondong-bondong pergi kelapangan untuk melaksanakan sholat Ied yang sudah diumumkan jauh-jauh hari yang lalu. Warga terkejut karena tidak mengira kalau mereka akan berkumpul menjadi satu dilapangan, namun karena ini momennya hari raya, mereka hanya menahan diri untuk tidak saling menyerang. Kemudian saat khotbah yang diisi oleh Dul Shomad sendiri menghimbau tentang arti perdamaian dan saling memaafkan dihari raya ini dengan jelas dan menarik untuk didengar. Diakhir khotbahnya Dul Shomad mengatakan, “Para hadirin jamaah sholat Ied...jika memang kalian merasa muslim sejati, ...ayo tunjukkan apa yang dilakukan Rasul, yaitu sifat pemaaf. Bagaimana...?. Dan nanti seusai sholat Ied, kalian semua harus saling maaf-memaafkan lahir dan batin...maauu ?”. Pada awalnya semua diam. Lalu saling memandang, dan akhirnya........semua hadirin mengangguk. “Alhamdulillah...akhirnya semua mau..tapi yang ikhlas ..habis ini tidak ada lagi rasa saling dendam”, kata Dul Shomad.
Usai sholat Ied mereka berkumpul jadi satu antara warga desa Melati dan Salamat. Semua saling berjabat tangan, terharu dan bahkan ada yang menangis sesenggukan.
“Alhamdulillah..akhirnya mereka rukun kembali.”, kata pak Mukhlis dengan memandangi orang-orang dengan mata berkaca-kaca karena terharu. (kak Haidar)

Dul Shomad

Dul Shomad
Hikmah dari kotoran bebek

Siang itu, sehabis shalat Dhuhur, sambil duduk dikursi tua didepan rumah yang terbuat dari rotan Dul Shomad terus memandangi warung-warung dipinggir jalan desa. Terlihat dari rona wajahnya, ia seolah-olah menunjukkan rasa prihatin bercampur kecewa, karena memperhatikan banyak orang keluar masuk warung, kadang ada yang sambil merokok dengan santainya. Maklumlah karena disiang hari saat bulan ramadhan, dari dulu dikampung Melati rasanya tabu, jika membuka warung, meskipun buka, namun diberi penutup kain atau tenda sehingga tidak terlihat dari luar. Entahlah kini budaya tabu agaknya makin luntur saja, hal inilah yang membuat perasaan Dul Shomad sebagai tokoh masyarakat dikapung itu merasa prihatin.
Pernah sekali dua kali ditegur dengan pelan dan halus, namun rupanya sipemilik warung tidak pernah menggubris dengan alasan yang macam-macam.
“Aku harus mencari cara agar bagaimana warung–warung itu tidak terlalu mencolok buka pada siang hari” kata Dul Somad dengan lirih sambil mengelus-elus jenggotnya yang memutih itu.

Pada suatu pagi , sepulang dari masjid, Dul Shomad bersama Hasan berjalan menyusuri jalan dimana warung-warung tersebut masih tutup. Ketika menoleh kesamping, tepatnya diseberang sungai, ada segerombolan bebek berjalan melewati jembatan kecil yang terbuat dari bambu. Bebek-bebek tersebut menuju kepersawahan untuk mencari makan. Ia berhenti sejenak sambil memperhatikan jembatan bambu itu, lalu tersenyum dan berkata. “Hmm..seandainya jembatan bambu ini kuambil, otomatis bebek-bebek itu melewati depan warung karena tidak bisa lewat jembatan ini. Dan inipun sebenarnya kan bukan jalan dan jembatannyapun bukan untuk dilewati orang.” “Wuaah…itu ide bagus pak Dul”, sambung Hasan. Kemudian kedua orang itu melompati sungai kecil dan mengambil dua batang bambu untuk jembatan tersebut dan dibuang jauh-jauh.

Satu jam setelah itu, mulai terlihat segerombolan bebek menuju persawahan yang biasanya melewati jembatan bambu, kini harus lewat jalan didepan warung-warung. Kemudian datang lagi segerombolan bebek yangf jumlahnya jauh lebih besar. Maklum penduduk desa Melati sebagian besar adalah peternak bebek, jadi tidak mengherankan jika setiap pagi ribuan bebek melawati jalan itu untuk menuju persawahan. Dan bisa ditebak, kotoran bebek terlihat disan-sini termasuk didepan warung. Dan disiang harinya, banyak kendaraan yang lewat, sehingga debu yang bercampur kotoran bebek tersapu angin hingga masuk diwarung-warung. Kontan saja para pembeli jijik melihatnya, sehingga sejak saat itu jarang pembeli yang mau mampir diwarung-warung tersebut pada siang hari. Karena sepinya pembeli, para penjualnya pada mengeluh, dan dalam beberapa hari saja warung-warung tersebut tutup, kemudian baru dibuka lagi pada saat sahur atau saat berbuka puasa. Kini dijalanan itu pada siang hari sudah tidak pernah dijumpai lagi orang yang keluar masuk warung serta merokok dijalanan.

Melihat semua itu Dul Shomad dan Hasan cuma tersenyum dan bersyukur. “Itulah satu-satunya cara menutup warung disiang hari pada saat orang-orang sedang berpuasa”. Kata Dul Shomad.***

Dul Shomad

Dul Shomad
Ikhlas yang berbuah kenikmatan

Baginda Sri Maulana akhir akhir ini sering duduk termenung sendiri, seperti memikirkan sesuatu. Apalagi jika setelah memandang putrinya yang sangat cantik Zhafira, seolah hatinya semakin gelisah. Suatu hari ketika baginda duduk, mendekatlah salah seorang penasihat istana Barkowi, “Ampun paduka,.. akhir akhir ini sering menyendiri dan melamun, persoalan apakah yang membuat baginda begitu . .Dengan agak terkejut Sri Maulana menjawab,”O.o.Aku kira siapa... Ternyata pak Barkowi. Yaaah…begini…akhir akhir ini hatiku sangat gelisah jika melihat putriku yang semakin beranjak dewasa. Ia begitu anggun, akhlaknya bagus, dan taat beribadah. Disinilah aku bingung, siapa nantinya orang yang pantas mendampingi putriku, terutama cocok dan sifat sifatnya sama. Sebab dialah satu satunya yang akan menggantikan kedudukanku nanti.”
Maklumlah sang raja dalam memerintah amat jujur, adil dan bijaksana, sehingga tidak heran jika ia sangat hati hati dalam memilih menantu agar nantinya dapat memerintah sepertidirinya.

Malamnya dipanggillah semua penasehat istana untuk mencari jawaban yang dikehendaki baginda raja. Salah seorang penasehat angkat bicara, “Kalau menurutku, cari saja calon menantu yang kaya raya, syukur syukur mempunyai kekuasaan dan wilayah yang luas, sehingga negeri kita ini nantinya bertambah besar.” Kemudian yang satunya lagi mengusulkan,”Bagaimana jika kita cari orang yang benar benar sakti, gagah berani. Nantinya negeri ini disegani dan dapat memperluas jajahan.” Sang raja diam saja, sedikitpun kurang antusias dengan usulan itu. “Bukan itu semua yang kumaksud, tapi mencari calon menantu yang hatinya bersih dan kelak dapat memimpin negeri ini dengan jujur, adil dan bijaksana”.
Semua yang hadir terdiam seolah tidak mampu mencari jawaban apa yang dikatakan rajanya. “Oo.. saya teringat sahabat kita Dulo Shomad. Biasanya dia paling pintar mencarikan jalan keluar berbagai persoalan”.Kata Barkowi. Kontan sang raja berdiri,”Hmm..iya..ya.. baru ingt sekarang. Baiklah besok aku sendiri yang akan kesana, dan tidak perlu pengawalan segala”.

Hari masih pagi, diujung jalan desa sebuah rumah kecil sederhana, baginda raja turun dari kudanya langsung mengetuk pintu. “Tok..tok..tok.Assalaamu’alaikuuum..!, Terdengar suara dari dalam menjawab,”Wa’alaikum salaam….oo...o’..Baginda raja..mari..masuk, maafkan kami baginda sampai mau masuk kegubuk kami”.Meski gubuk kecil baginda mau datang kerumah, karena mengingat beliau sangat simpatik dan menaruh hormat pada.orang tua sederhana tersebut. Kemudian Baginda Sri Maulana menceritakan semua permasalahannya, kemudian meminta nasehat. Dul Shomad diam agak lama, dengan kepala manggut manggut ia membelai jenggotnya yang putih. “Hmm…baiklah, saya akan berusaha mencari apa yang selama ini baginda inginkan, tapi dengan syarat paduka harus percaya dengan cara yang kupakai, insya Allah mendapatkan hasil”. “Oo.. semua ide pak Dul, saya tetap percaya”, kelakar baginda.

Esoknya dibuatlah pengumuman keseluruh pelosok baik dalam sampai kenegeri tetangga yang isinya Putri raja mencari calon pendamping. Pada hari yang ditentukan, banyak sekali calon calon peserta yang datang dengan berbagai penampilan. Ada yang berpakaian mewah menonjolkan kekayaannya, ada yang menonjolkan dirinya pendekar, dan ada pula yang biasa biasa saja. Keluarlah sang patih untuk membacakan beberapa persyaratan. Satu persatu para peserta bergantian memasuki ruangan istana untuk di test oleh Dul Shomad langsung, namun hampir semuanya gagal, baik yang terlihat berpenampilan pendekar, orang kaya maupun peserta lainnya keluar dengan wajah kecewa hingga hanya tertinggal seorang pemuda yang lugu dan pendiam. Dengan tenang ia masuk dan ditanya oleh Dul Shomad. “Apa yang kamu inginkan hingga mengikuti sayembara ini hai anak muda?”. “Saya ingin menjadi suami putri yang baik”, jawab pemuda tersebut. Lalu Dul kembali bertanya,”Baiklah, tapi kamu jangan kecewa dan jangan mengharap nantinya dapat menggantikan sang raja. Kamu tahu kalu putri raja itu orangnya cacat segalanya. Ia bisu, tuli, buta dan lumpuh. Mau kamu”. “Apapun keadaannya, hamba siap menikahi, dan hamba tidak menginginkan kedudukan jika tidak dikehendaki. Jawab pemuda dengan tenang.”Betul apa yang kamu katakan tadi ?. Tanya Dul Shomad lagi. ”Betul tuan” jawab pemuda itu lagi. “Pak..pak.pak !!.”. Dul Shomad menepuk nepuk pundak pemuda itu dan berkata, “Ketahuilah nak, bahwa putri Zhafira itu buta dalam arti kata tidak pernah melihat maksiat, bisu tidak pernah bicara yang melanggar agama, tuli tidak pernah mendengar suara suara yang tidak baik, dan lumpuh tidak pernah pergi ketempat tempat yang dilarang agama. Itulah kamu yang paling pantas mendampingi putri Zhafira.”. Saat itu juga pemuda itu mendampingi pitri raja untuk selamanya dan raja sangat puas denganhasil kerja Dul Shomad.(Hbb)

Sang Juara yang cerdik

Dul Shomad
Sang Juara yang cerdik
Bulan Agustus kembali tiba, berarti semua warga dikampung Melati mulai disibukkan oleh berbagai kegiatan. Pengecatan gapura, pagar pagar rumah maupun membersihkan jalan jalan kampung. Kegiatan lainnya yang tak kalah sibuk adalah menyelenggarakan berbagai macam lomba, dari anak anak sampai orang tua. Lomba lari marathon, menggambar, berbagai ketangkasa diperuntukkan anak kecil. Untuk yang remaja ada tarik tambang, panjat pinag, dan bermacam macam olah raga. Bagi orang tuapun tak kalah ketinggalan menariknya. Bapak kepala desa kali ini mengadakan lomba baca Alqur’an secara tartil, tajuid yang benar dan juaranya . Bagi yang berhasil memenangkan lomba ini akan mendapatkan hadiah seekor kerbau. Maklum didesa Melati bayak orang yang pandai, piawai, dan tartil dalam membaca Al Qur’an, bahkan diantaranya ada yang hafidz (hafal Al qu’an).

Begitu pendaftaran dibuka, banyak orang yang datang berbondong bondong dan sangat antusias untuk mengikuti lomba tersebut. Jika dilihat penampilannya, semua ahli dan fasih dalam membaca Al qur’an.
Ketika semua orang pada sibuk tampak terlihat Dul Shomad duduk dibawah pohon sambil menanti tempat pendaftaran. Begitu tempat pendaftaran kosong orang tua yang sudah beruban itu mendekati meja pendaftaran. “Bapak juga mau ikut ? sudah tahu peraturannya.” Tanya salah seorang panitia pendaftaran. “Insya Allah nak. Bapak Cuma ingin berpartisipasi saja. Syukur syukur dapat juara”. Katanya dengan pelan.

Hari yang ditentukan telah tiba. Diaula kelurahan sudah penuh dengan para peserta termasuk Dul Shomad yang duduk disamping pintu. Kemudian muncullah pak Lurah untuk membuka perlombaan ini dengan kata sambutan,”Assalamu’alaikum..para hadirin semua, bagaimana ..sehat ? baiklah. Peraturannya kalian harus membaca Al qur’an awal akhir dengan bacaan yang benar. Tiap tiap peserta nanti disimak oleh satu orang hafidz dari kabupaten untuk menjadi juri”. Kemudian dimulailah acara tersebut. Masing masing peserta dinilai olehsatu orang juri, dan semuanya mulai membaca. Dul Shomad mulai membaca surat fatikhah dan Al Baqarah hanya beberapa ayat dengan benar dan tartil, lalu diam dan tiduran. Juri yang dihadapi Dul Shiomad terheran heran,”Lho pak apakah anda mengundurkan diri ?” “Tidak…sudahlah nanti anda lihat sendiri, pokoknya kamu jangan kemana mana sampai semuanya selesai”, jawabnya dengan tenang.

Lmba semakin seru saja hingga, ketika salah seorang peserta ada yang sudah mencapai juz 28, Dul Shomad bengun dan mengambil air wudhu, lalu dipanggillah juri yang ada dihadapan tadi dan ia membaca surat An-nas dengan tajuid yang benar dan tartil, lalu laporan selesai.
Semua peserta sudah hamper selesai, tapi yang paling awal dan benar membacanya adalah pak Syahrun, dan dinobatkan sebagai Namun Dul Shomad berdiri dan bertanya kepada pak lurah dan semua juri,’Maaf boleh saya bertanya, bukankah tadi dari panitia melombakan pembacaan Al-qur’an dengan ketentuan awal akhir. Dan saya orang yang pertama menyelesaikannya. Bukankah awal akhir itu surat Al-fatekhah dan surat An-nas?”. Para juri terbengong, “iya…yaa..tadi pak lurah mengatakan awal akhir..jadi…pemenangnya ya…..Dul Shomad”. Semua yang hadir tidak menyangka akan terjadi begitu, tapi apa boleh buat , secara syah Dul Shomad memang betlul, dan akhirnya orang tua itu dinobatkab sebagai pemenangnya dengan hadiah seekor kerbau.

TUMBANGNYA SIPENUNGGU POHON

Dul Shomad
TUMBANGNYA SIPENUNGGU POHON
Akhir-akhir ini pak Widyo duduk termenung didepan rumah hampir setiap sore hari. Sebagai kepala desa Ia sedih, karena melihat banyak rakyatnya yang semakin lama tingkah lakunya makin aneh saja. Yaitu hampir setiap hari secara bergantian pergi ke sebuah bukit yang letaknya di selatan Dukuh Salamat dimana terdapat sebuah pohon besar dengan batangnya terbungkus kain mori putih yang terletak dipuncak bukit itu. Mereka yang kesana mempunyai berbagai macam tujuan, antara lain seperti biar jualannya laris, minta pengobatan, agar anaknya tidak rewel, diberi keselamatan dan lain sebagainya
Dengan membawa sesaji seperti kembang setaman, beras kuning, kemenyan dan telur mentah, kemudian oleh mbah Kromo yang dipercaya sebagai juru kunci.lalu dibacakan mantera dan jampi-jampi. Setelah selesai melaksanakan ritual, mereka kemudian memberi uang seikhlasnya kepada orang tua tersebut.
Kejadian ini hampir setiap hari ada, apa lagi saat bertepatan pada hari-hari tertentu seperti malam jum’at kliwon, selasa kliwon atau malam suro luar biasa pengunjungnya. Bahkan orang-orang yang berasal dari tetangga desa yang jauhpun ikut dating.

Sebagai pemimpin didesa Salamat, ia merasa berdosa jika tidak dapat menghentikan perbuatan-perbuatan rakyatnya. Berbagai upaya telah dilakukannya seperti seringnya memberi penjelasan bahwa perbuatan tersebut sangat dilarang agama, bahkan pernah pak Widyo sempat mengancam akan menebang pohon tersebut, tapi selalu diprotes dan dihalang-halangi oleh para penduduk yang sering mendatangi tempat tersebut.

Karena merasa tidak mampu, akhirnya ia menyerah meski masih mencari jalan untuk menyelesaikan masalah ini. Pada suatu sore tiba-tiba ia teringat oleh seorang sahabat yang sering memberikan nasehat dan jalan keluar berbagai persoalan yaitu Dul Shomad yang tinggal didesa Enggalmelati sebelah utara Salamat. Tanpa pikir panjang ia langsung pergi ketempat tinggal Dul Shomad.

“Assalamu’alaikum…!”. “Siapa ya ?” jawab Dul Shomad dari dalam.”Alhamdulillaaah….pak Widyo mau silaturrahmi kegubuk kami”. “Iya pak Dul disamping sudah kangen juga aku punya maksud”, kata pak lurah. “O..yaa mari masuk kebetulah aku baru saja salat asar”, Dul Shomad mempersilahkan. Setelah duduk dan menikmati hidangan yang diberikan Dul Shomad, lalu pak Widyo menceritakan persoalan yang menimpa rakyatnya. “Astaghfirullaaah…itu syirik namanya dan harus secepatnya dihentikan”, kata Dul Shomad. “Itulah sebabnya pak Dul, kami kesini untuk minta nasehat bagaimana cara menghentikan mereka”. Dul Shomad diam agak lama sambil mengusap-usap jenggotnya yang semakin memutih kemudian bangun dan berkata,”Hmmm…..yah...yaaaa kini aku tahu cara menghentikan mereka. Nanti malam kita langsung menuju ketempat pohon itu dan tolong sediakan pipa besi yang panjangnya kira-kira lima meteran”.
Pak lurah menurut saja, kemudian malamnya dengan membawa pipa panjang dan kawat mereka berdua pergi ketempat pohon itu. Dul Shomad dan pak Wid memanjat keatas pohon yang kebetulan dahan-dahannya kuat dan mudah untuk dipanjat, lalu menancapkan besi didahan paling atas sambil diikat beberapa kawat, setelah selesai mereka turun. “Maksudnya apa pak Dul ?”Tanya pak Wid dengan penuh rasa keheranan. “Sudahlah kita tunggu saja sampai nanti jika ada hujan mau turun, sabarlah”, jawab Dul Shomad.

Para penduduk tidak tahu jika diatas pohon sudah dipasangi besi panjang. Hari berganti hari waktu sudah berjalan seminggu, pada suatu sore hari langit kelihatan mendung dan hujan turun rintik-rintik. Suara petir mulai terdengar, lama kelamaan semakin sering dan keras pada puncaknya tiba-tiba, Dhuaaaaar……….!!! Krosaaak…bruuuuk bagaikan dentuman meriam, petir tadi menyambar besi diatas pohon dan langsung membakar dan menghancurkan pohon yang dikeramatkan masyarakat tersebut.. Mendengar suara keras itu, para penduduk berlarian mendatangi sumber suara yang menggelegar, dan ternyata….oirang-orang yang datang seakan tak percaya melihat kejadian yang baru saja didepan mata.

Dalam suasana bengong tiba-tiba masyarakat dikejutkan suara mbah Kromo dari rumah berlari menuju tempat itu,”Oooh..pohon ituu….Hyang penunggu telah murka…hyang penunggu telah murka, ini akibat kelalaian kalian semua dalam memberikan sesaji masih ada yang kurang, cepat sujud dan mohon ampunannya..cepaat sebelum bencana kembali lagi !!” Baru saja para penduduk mau melakukan perintah mbah Kromo, tiba-tiba dari arah belakang pak lurah tampil dan menyerukan suara lantang ,”Stooop..!!! hentikan perbuatan kalian……!!!, pebuatan kalian selama ini keliru, ini pak Dul yang akan menjelaskan…..hayo mundur…mundur sedikit”. Dengan tenang Dul Shomad maju kedepan dan menerangkan dengan pelan tapi jelas,”Bapak-bapak semua, perbuatan kalian selama ini jelas-jelas telah keliru. Itu bukan penunggu yang murka, tapi Allah lah yang marah, karena selama ini kalian memuja-muja, memberi sesaji dan meminta pertolongan pada benda ini…… Sekarang….tolong direnungi lagi, kenapa benda yang konon kuat dan kalian anggap keramatpun dapat hancur oleh petir. Berarti masih ada yang lebih kuat yaitu Allah melalui petir ini dengan mudah menghancurkan benda yang katanya dapat memberi pertolongan. Naah mulai sekarang, mari kita cepat-cepat sadar dan bertobat kepada Allah. Karena Dialah yang paling berhak disembah dan diminta pertolongan, jangan minta pada pohon, itu sam saja menyekutukan Allah dan syirik”. Semua yang hadir disitu tertunduk dan diam lalu saling melirik, seolah mereka merasa selama ini perbuatannya itu salah, lalu satu persatu meninggalkan tempat itu, mbah Kromopun terlihat malu dan ngeloyor pergi.

Pak Widyo menghampiri Dul Shomad,”Alhamdulillah…waah..waah berkat idemu akhirnya semua jadi sadar pak Dul” lalu dijawab Dul Shomad dengan tersenyum, “Bukan …bukan karena saya. Itu semua karena Allah melalui saya. Karena menurut ilmu pengetahuan, dimanapun tempat yang paling tinggi itulah yang menjadi sasaran utama petir”
Setelah peristiwa itu lambat laun masyarakat mulai mau lagi pergi kemasjid, selain shalat mereka mendengarkan pengajian dan ceramah yang disampaikan oleh Dul Shomad tentang akidah dan akhlak. (kak Imam)

Jejen dan Habib

.Terjebak diatas pasir
oleh : Haidar
Masjid Nurul Hidayah tiap habis Magrib ramai sekali oleh anak-anak yang sedang mengaji, sehingga ketika sudah selesai, dijalanan depan masjid dipenuhi para santri yang mau pulang
Tiba-tiba sebuah sepeda yang jalannya sangat kencang nyerempet, Dinda hingga terjatuh, sedangkan sepeda itu terus melarikan diri.
Besoknya lagi sepeda itu kembali melewati jalan depan masjid dengan kencang. Ketika Jejen mengejar ia sudah menghilang jauh.
Sampai dirumah Jejen dan Habib mencari setrategi untuk dapat menangkap sepengendara sepeda yang selalu ngebut didepan masjid.
Sore hari menjelang magrib Jejen dan Habib membawa pasir tiga ember kemudian ditumpahkan dijalan depan masjid.
Ketika anak-anak keluar darimasjid, dari arah timur sepeda itu muncul lagi dengan kencang, tapi ketika melewati jalanan berpasir jatuh. “Aduh….” Ternyata setelah dilihat Nado yang kemudian diserahkan pak ketua RW.